Minggu, 21 September 2014

TUGAS SOSIOLOGI DAKWAH
DALIL-DALIL FUNGSI DAKWAH

1.      Dakwah sebagai ajakan.
An-Nahl ayat 125
äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  

QS. Al-Imran ayat 104
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

                                                                                                       QS. Al-Baqarah ayat 221
Ÿwur (#qßsÅ3Zs? ÏM»x.ÎŽô³ßJø9$# 4Ó®Lym £`ÏB÷sム4 ×ptBV{ur îpoYÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 7px.ÎŽô³•B öqs9ur öNä3÷Gt6yfôãr& 3 Ÿwur (#qßsÅ3Zè? tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# 4Ó®Lym (#qãZÏB÷sム4 Ó‰ö7yès9ur í`ÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 78ÎŽô³•B öqs9ur öNä3t6yfôãr& 3 y7Í´¯»s9'ré& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Í‘$¨Z9$# ( ª!$#ur (#þqããô‰tƒ ’n<Î) Ïp¨Yyfø9$# ÍotÏÿøóyJø9$#ur ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ ( ßûÎiüt7ãƒur ¾ÏmÏG»tƒ#uä Ĩ$¨Y=Ï9 öNßg¯=yès9 tbr㍩.x‹tGtƒ ÇËËÊÈ  


2.      Dakwah sebagai proses komunikasi
Qs. Thaha ayat 44
Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh‹©9 ¼ã&©#yè©9 ㍩.x‹tFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs† ÇÍÍÈ



QS. Al-Imran ayat 110

öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
                                                                                                                QS. Yusuf ayat 108
ö@è% ¾ÍnÉ‹»yd þ’Í?ŠÎ6y™ (#þqãã÷Šr& ’n<Î) «!$# 4 4’n?tã >ouŽÅÁt/ O$tRr& Ç`tBur ÓÍ_yèt6¨?$# ( z`»ysö6ß™ur «!$# !$tBur O$tRr& z`ÏB šúüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÉÑÈ  

QS. Al-Maidah ayat 67
* $pkš‰r'¯»tƒ ãAqß™§9$# õ÷Ïk=t/ !$tB tAÌ“Ré& šø‹s9Î) `ÏB y7Îi/¢‘ ( bÎ)ur óO©9 ö@yèøÿs? $yJsù |Møó¯=t/ ¼çmtGs9$y™Í‘ 4 ª!$#ur šßJÅÁ÷ètƒ z`ÏB Ĩ$¨Z9$# 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw “ωöku‰ tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÏÐÈ  


3.      Dakwah sebagai penyebaran rahmat allah
QS. Al-Anbiya' ayat 107
!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

                                                                                                     QS. Al-Mujadillah ayat 22
žw ߉ÅgrB $YBöqs% šcqãZÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# šcr–Š!#uqムô`tB ¨Š!$ym ©!$# ¼ã&s!qß™u‘ur öqs9ur (#þqçR%Ÿ2 öNèduä!$t/#uä ÷rr& öNèduä!$oYö/r& ÷rr& óOßgtRºuq÷zÎ) ÷rr& öNåksEuŽÏ±tã 4 y7Í´¯»s9'ré& |=tFŸ2 ’Îû ãNÍkÍ5qè=è% z`»yJƒM}$# Nèdy‰­ƒr&ur 8yrãÎ/ çm÷YÏiB ( óOßgè=Åzô‰ãƒur ;M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $pkÉJøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz $yg‹Ïù 4 š_ÅÌu‘ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊu‘ur çm÷Ytã 4 y7Í´¯»s9'ré& Ü>÷“Ïm «!$# 4 Iwr& ¨bÎ) z>÷“Ïm «!$# ãNèd tbqßsÎ=øÿçRùQ$# ÇËËÈ  

4.      Dakwah sebagai pembebasan
QS. Al-'Alaq 1-5
ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
                                                                                                         QS. Al-Jumu'ah ayat 10     
#sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ  

5.      Dakwah sebagai penyelamatan
QS. Ibrahim ayat 1
!9# 4 ë=»tGÅ2 çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) yl̍÷‚çGÏ9 }¨$¨Z9$# z`ÏB ÏM»yJè=—à9$# ’n<Î) Í‘q–Y9$# ÈbøŒÎ*Î/ óOÎgÎn/u‘ 4’n<Î) ÅÞºuŽÅÀ Í“ƒÍ“yèø9$# ω‹ÏJptø:$# ÇÊÈ  

6.      Dakwah sebagai upaya membangun peradaban
QS. Al-Mujadilah ayat 11
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  


7.      Dakwah sebagai hiburan
QS. Al-Maidah ayat 19
Ÿ@÷dr'¯»tƒ É=»tGÅ3ø9$# ô‰s% öNä.uä!%y` $uZä9qß™u‘ ßûÎiüt7ムöNä3s9 4’n?tã ;ouŽøIsù z`ÏiB È@ß™”9$# br& (#qä9qà)s? $tB $tRuä!%y` .`ÏB 9ŽÏ±o0 Ÿwur 9ƒÉ‹tR ( ô‰s)sù Nä.uä!%y` ׎Ï±o0 ֍ƒÉ‹tRur 3 ª!$#ur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇÊÒÈ  


Sabtu, 03 Desember 2011

Pluralisme Objek Realitas di Indonesia


A.    Pengertian Pluralisme
Istilah ‘pluralisme’ yang berarti ‘beragam’, penda­pat orang tentang istilah ini juga beraneka ragam pula. Secara harfiah pluralisme berarti jamak, beberapa, berbagai hal, keberbagaian atau banyak. Oleh karenanya sesuatu dikatakan plural pasti  terdiri dari banyak hal jenis, pelbagai sudut pandang serta latar belakang. [1]
Pluralisme menurut bahasa adalah teori yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak substansi. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak etnik,

PENTINGNYA KOMUNIKASI SOSIAL DALAM BERDAKWAH


Kominikasi merupakan peristiwa sosial yang bertujuan untuk memberikan informasi, membentuk pengertian, menghibur, bahkan mempengaruhi orang lain. Sedangkan Komunikasi sosial ialah suatu proses interaksi di mana seseorang atau lembaga menyampaikan amanat kepada pihak lain supaya pihak lain dapat menangkap maksud yang dikehendaki penyampai. Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi sangat penting dan berpengaruh terhadap keberhasilan interaksi yang dilakukan kedua belah pihak. Tanpa adanya komunikasi yang baik tidak akan ada kesempurnaan dalam penyampaian pesan kepada komunikan.

Tokoh Teori Sosiologi Klasik


Mempelajari ilmu sosiologi tidak akan dapat terlepas pula dari mempelajari mata kuliah teori sosiologi baik yang klasik maupun yang modern. Dengan demikian Anda sebagai mahasiswa sosiologi mempunyai kewajiban untuk mempelajari dan juga memahami tentang landasan teori dari konsep-konsep sosiologi yang sudah dan yang akan Anda pelajari dalam mata kuliah-mata kuliah lainnya.

Karl Marx


A.    Biografis
Marx dilahirkan di Trier, Prussia–Jerman pada tanggal 5 mei 1818. Dia adalah anak seorang pengacara Yahudi[1]. Pada tahun 1841 marx memperoleh gelar doktor filsafatnya dari Universitas Berlin, universitas yang sangat dipengaruhi oleh Hegel dan guru–guru muda penganut filsafat Hegel, tetapi berpikiran kritis. Setelah tamat ia menjadi penulis untuk sebuah Koran liberal radikal dan dalam tempo 10 bulan ia menjadi editor kepala Koran itu. Esai–esai awal yang diterbitkan dalam periode ini mulai mencerminkan sejumlah pendirian yang membimbing Marx sepanjang hidupnya. Esai–esai tulisan Marx itu secara bebas ditaburi prinsip–prinsip demokrasi, kemanusiaan dan idealisme awal. Ia menolak keabstrakan filsafat Hegelian, mimpi naïf komunis utopian dan gagasan aktivis yang mendesakkan apa yang ia anggap sebagai tindakan politik premature[2]. Dalam menolak gagasan aktivis ini, Marx meletakkan landasan bagi gagasan hidupnya sendiri :

Minggu, 31 Juli 2011

August Comte


A.    SKETSA BIOGRAFIS AUGUSTE COMTE
            Auguste comte lahir di Mountpelier, perancis, 19 januari 1798 (pickering, 1993: 7). Orangtuannya berstatus kelas menengah dan ayahya kemudian menjadi pejabat lokal kantor pajak. Meski tergolong cepat menjadi mahasiswa, ia tak pernah mendapat ijazah perguruan Negeri. Dalam setiap kelasnya Ecole polytecnique, Comte bersama seluruh kelasnya di keluarkan karena gagasan politik dan pemberontakan yang mereka lakukan. Pemecatan ini berpengaruh dalam karir akademis Comte. Tahun 1817 ia menjadi sekretaris (dan menjadi anak angkat) saint simon, filsuf yang 40 tahun lebih tua. Mereka bekerjasama sangat akrab selama beberapa tahun dan Comte menyatakan utang budinya kepada saint simon, ia memberikan dorongan sangat besar kepada ku dalam studi filsafat yang memungkinkan diriku menciptakan pemikiran filsafat ku sendiri dan yang akan aku ikuti tanpa ragu selama hidup ku. tetapi tahun 1824 keduanya bersengketa karena comte yakin saint-simon menghapus namanya dari salah satu karya sumbangannya. Comte kemudian menyurati teman-temanya sambil menuduh saint simon bersifat “katastropik” dan melukiskan saint simon sebagai penyulap besar”. Tahun 1852 comte bekata tentang saint-simon” aku tak berhutang apapun pada tokoh terkemuka itu”.

Epistemologi


Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
PEMBAGIAN PENGETAHUAN
Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan dan diterima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi dua saja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabang-cabangnya masing-masing. Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni, bahasa, dan sejarah.
Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakan banyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, atau barangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkan sebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities, berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Tetapi kalau demikian, maka ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengan kemanusiaan.

Pendekatan dalam Psikologi Sosial

Pendekatan dalam Psikologi Sosial
memahami perilaku. Menurut Saymour Epstain
·         Model Pendekatan disposisi kepribadian ( traits personality approach ). Pendekatan ini biasa dianut dan dikembangkan oleh penganut behaviorisme dan conceptualisme. Mereka berasumsi yang menjadi penyebab perilaku sosial dikarenakan sifat – sifat kepribadian yang melekat pada diri individu dan seperti sudah built in dalam diri anda. Ini bersifat permanen dan resisten. Kesimpulannya menjelaskan penyebab dari perilaku sosial dikarenakan faktor – faktor sifat kepribadian yang sifatnya bawaan bersifat permanen sehingga membentuk karakter.

Selasa, 19 Juli 2011

PARTISIPASI POLITIK

Model Perilaku Politik
Perilaku politik dapat dipilih tiga kemungkinan unit analisis, yakni individu aktor politik, agregasi politik, dan tipologi kepribadian politik. Dalam kategori individu aktor politik meliputi aktor politik (pemimpin), aktivis politik, dan individu warga negara biasa. Agregasi ialah individu aktor politik secara kolektif, dalam tipologi kepribadian politik ialah tipe-tipe kepribadian pemimpin otoriter, machiavelist dan demokrat. Empat faktor yang mempengaruhi perilaku politik seorang aktor politik.

Selasa, 12 Juli 2011

Multikulturalisme dalam Masyarakat Majemuk


DI DALAM dunia ilmu-ilmu sosial telah muncul semacam kesadaran, bahwa penelitian sosial tidak pernah boleh berhenti pada pengumpulan data-data semata. Penelitian sosial haruslah menekankan dan mengajarkan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan bersama. Hal yang sama kiranya juga berlaku di dalam penelitian-penelitan mengenai multikulturalisme.

Seorang ilmuwan sosial asal Swedia, Gunnar Myrdal, mempunyai pendapat menarik tentang hal ini.[2] Pertama, baginya ilmu-ilmu sosial haruslah melibatkan sesuatu yang lebih dari sekedar penggambaran fakta-fakta. Dalam arti ini ilmu sosial haruslah menyentuh problem-problem mendasar kehidupan manusia, seperti soal nilai dan makna.