Rabu, 08 Juni 2011

Makna dan Fungsi Stratifikasi Sosial


A.           Makna Stratitifikasi Sosial
Masyarakat terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari latar belakang tentu akan membentuk suatu msyarakat yang heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dengan adanya itu terjdinya kelompok sosial ini maka terbentuklah suatu pelapisan masyarakat atau tebentuklah masyarakat yang berstrata.
Masyarakat merupakan suatu kesatuan yang didasarkan ikatan-ikatan yang sudah teratur dan boleh dikatan stabil. Sehubungan dengan ini maka dengan sendirinya masyarakat merupakan kesatuan yang dalam pembentukannya mempunyai gejala yang sama.
Pitirim A. Sorokin, pernah mengatakan bahwa sistem lapisan merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Barang siapa yang memiliki sesuatu yang berharga dalam jumlah yang sangat banyak dianggap masyarakat berkedudukan dalam lapisan atas. Mereka yang hanya sedikit sekali atau tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah. Biasanya golongan yang berada lapisan atasan tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat, tetapi kedudukan yang tinggi itu bersifat kumulatif.
Sistem lapisan dalam masyarakat tersebut dikenal dengan social stratification. Kata stratification  berasalal dari kata stratum (jamaknya: strata yangberarti lapisan). Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas tinggi secara bertingkat (hierarkis).[1]  Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Menurutnya, dasar dan inti lapisan masyarakat tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial penaguhnya diantara anggota-anggota masyarakat. Stratifikasi terjadi dengan sengaja dan tidak sengaja.
Menurut Soerjono Soekanto, dalam setiap masyarakat selalu mempunyai sesuatu yang dihargai. Sesuatu itu dapat berupa kekayaan, ilmu pengetahuan, status kebangsawanan, kekuasaan atau hal-hal yang bersifat ekonomis. Pelapisan sosial sebenarnya mulai ada sejak masyarakat itu mengenal kehidupan bersama, dari masyarakat sederhana hingga masyarakat modern.[2]
Lebih lengkap lagi batasan yang dikemukakan oleh Theodorson dkk. di dalam Dictionari of Sociology, oleh mereka dikatakan sebagai berikut:
"Pelapisan masyarakat berarti jenjang status dan peranan yang relative permanen yang terdapat didalam sistem sosial (dari kelompok kecil sampai kie masyarakat) didalam pembedaan hak,  pengaruh dan kekuasaan."
Masyarakat yang berstratifiksi sering dilukiskan sebagai suatu kerucut atau piramida, dimana lapisan bawah adalah paling lebar dan lapisan ini menyempit ke atas.
Di dalam buku lain juga dijelaskan mengenai makna stratifikasi sosial , disitu makna stratifikasi sosial dilihat dari kegunannya. Jika dilihat sebagai kata benda, maka Statifikasi sosial berarti system perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyrakat. Sedangkan jika digunakan sebagai kata kerja, makaa stratifikasi sosial adalah proses penyambungan dan perubahan system perbedaan status. Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Selanjutnya menurut Sorakin, dasar dan inti lapisan masyarakat tidak adanya keseimbangan.
Sejak zaman dulu, masyarakat telah mengenal pembagian atau pelapisan sosial. Plato menganggap bahwa pelapisan sosial adalah biasa. Baginya, tidak ada kesetaraan idelistis di kalangan manusia untuk menghargai bakat dan kemampuan.  Dia berpandangan bahwa alam membuat kemempuan manusia berbeda, baik karena pengejaran fisik maupun intelektual atau karena mencapai kebajikan. Bakat dan kemampuan intelektual dianggap bukan karena pengalaman dan sebab-sebab material. Status dan kelas diangap sebagai suatu yang ada dan membawa konsekuensi bagi posisinya masing-masing, tetapi tak mempermasalahkan perbedaan yang membawa efek eksploitatif.[3]
Setelah Plato, Aristoteles mengatakan bahwa setiap orang harus di cintai sesuai dengan kelebihannya, yang lebih rendah harus mencintai yang lebih tinggi daripada yang tinggi mencintai yang lebih rendah. Stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. [4]

B.           Terjadinya Lapisan Sosial
Kelas sosial lahir sebagai akibat dari adanya pembagian jenis pekerjaan. Kelas sosial terdiri atas orang-orang yang memiliki status sosisal yang sama dan saling menilai satu sama lainnyasebagai anggota masyarakat yang sederajat.[5] Beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifuikasi sosial masyarakat adalah :
a.       Perbedaan ras dan budaya, yaitu ketidaksamaan ciri biologis seperti warna kulit, latar belakang etnis dan budaya dapat mengarah kepada stratifikasi sosial dalam masyarakat, dimana cenderung terjadi suatu kelompok menguasai suatu kelompok lain,
b.      Pembagian tugas, di mana pembagian tugas dalam masyarakat menunjukkan sistem spesialisasi. Posisi-posisi dalam spesialisasi ini berkaitan dengan perbedaan fungsi stratifikasi dan kekeuasaan,
c.       Kelangkaan, yaitu secara berangsur-angsur stratifikasi sosial terwujud karena alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka.
Secara teoritis, semua manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi, sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial, halnya tidaklah demikian.[6]
Ada dua tipe sistem lapisan sosial, yaitu :
  1. dapat terjadi dengan sendirinya
Proses ini berjalan dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Oleh karena sifatnya yang tidak sengaja inilah maka bentuk oelapisan dan dasar dari pada pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu dan kebudayaan masyarakat di mana sistem itu berlaku. Pada pelapisan yang tejadi dengan sendirinya, maka kedudukan seseorang pada sesuatu strata atau pelapisan adalah secara otomatis.
  1. sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama
Di dalam sistem pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang. Sistem pelapisan yang dibentuk dengan sengaja dapat dicontohkan seperti organisasi formal. Pembagian kedudukan di dalam formal pada pokoknya diperlukan agar organisasi itu dapat bergerak secara teratur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tetapi sebenarnya terdapat pula kelemahan yang disebabkan sistem itu.

C.           Pentingnya Stratifikasi Sosial
Kelas sosial adalah kenyataan sosial yang penting. Ia sangat menetukan masa depan dan mewarnai perkembangan kepribadian seseorang. Stratifikasi sosial bersifat relatif, tergantung dari sudut mana kita melihatnya dan menggunakan pendekatan seperti apa yang kita jadikan sebagai patokan.[7]
Pendekatan fungsional memandang bahwa stratifikasi sosial adalah sesuatu yang inheren dan penting untuk kelangsungan sistem. Menurut Kingsley Davis dan Wilbert sebagai pelopor pendekatan ini, stratifikasi sosial sangat dibutuhkan demi kelangsungan hidup masyarakat tidak terangsang untuk menekuni pekerjaan-pekerjaan sulit dan butuh belajar yang lama dan mahal.
Adanya sistem stratifikasi sosial dapat memecahkann berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar melaksanakan kewajibannya yang sesuai dengan kedudukan serta perannya. Stratifikasi sosial merupakan ”keperluan”. Keperluan ini muncul dari kebutuhan masyarakat untuk menemppatkan orang-otrang kedalam posisi-posisi yang membentuk struktur sosial, dan kemudian mendororng mereka agar menjalankan tugas-tugas yang berhubungan dengan posisi tersebut.[8]
Sementara itu, menurut pendekatan konflik munculnya stratifikasi sosial sesungguhnya hanya merupakan ulah kelompok-kelompok elite masyarakat yang berkuasa untuk mempertahankan dominasinya. Dipelopori oleh Karl Marx, pendekatan konflik berpandangan bahwa bukan kegunaan fungsional yang menciptakan stratifikasi sosial, melainkan dominasi kekuasaan. Artinya, adanya pelapisan sosial bukan dipandang sebagai konsesus, melainkan lebih disebabkan anggota masyarakat terpaksa harus menerima adanya perbedaan itu karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menentangnya.
Pemberian kesempatan  yang tidak sama dan semua bentuk diskriminasi menghambat orang dari strata rendah untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka semaksimal mungkin, bagi Marx, dasar pembentukan kelas sosial bukanlah konsesus tetapi penghisapan suatu kelas oleh kelas yang lebih tinggi.[9]

D.          Fungsi Stratifikasi Soial dalam Masyarakat
Ada  yang menganggap bahwa stratifikasi atau pelapisan sosial sangat perlu dan wajar, tetapi juga ada yang mengnggapnya tidak perlu dan harus dihapuskan. Bagi mereka yang ,menganggap tidak perlu, memiliki alasan bahwa seharusnya manusia memiliki persamaan dan kesetaraan dan tidak perlu dibedakan dari sudut pandang kelas sosial. Dan bagi mereka yang menganggap terciptanya lapisan sosial wajar dan dibutuhkan itu karena kelas-kelas dalam masyarakat dianggap terbentuk karena penyesuain masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata.
Stratifikasi sosial dapat berfungsi sebagai berikut:
·        Distriibusi hak-hak istimewa yang objektif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang pada jabatan/pangkat / kedudukan seseorang:
·        Sistem pertanggaan (tingktan) pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan, misalnya pada seseorang yang menerima anugerah penghargaan / kebngsawanan / gelar dan sebagainya:
·        Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat melali kwalitas pribadi, keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, kepemilikan, wewenang dan kekuasaan:
·        Penentu lambang-lambang (simbol ststus) atau kedudkan, seperti tingkah laku, cara berpakaian, dan bentuk rumah: dan
·        Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.
Fungsi stratifikasi sosial sebagaimana dikatakan oleh Kingsley Davis dan Wilbert Moore:
·        Stratifikasi sosial menjelaskan kepada seseorang ”tempat”nya dalam masyarakat sesuai dengan pekerjaan, menjelaskan kepadanaya bagaimana ia harus menjalankannya dan sehubungan dengan tugasnya menjelaskan apa dan bagaimana efek serta sumbangannya kepada masyarakat:
·        Karena peranan setiap tugas dalam setiap masyarakat berbeda-beda dengan sering danya tugas yang kurang dianggap penting oleh masyarakat (karena beberapa pekerjaan meminta pendidikan dan pekerjaan terlebih dahulu), berdasarkan perbedan persyaratan dan tuntutan atas prestasi kerja, masyarakat biasnya memberi imbalan kepada yang melaksanakan tugas dengan baik dan sebaliknya ”menghukum” yang tidak atau kurang baik. Dengan sendirinya, terjadilah distribusi penghargaan, yang menghasilkan dengan sendirinya pembentukan stratifikasi sosial: dan
·        Penghargaan yng biasanya yeng bersifat ekonomis, berupa pemberian status sosial atau fasilitas-fasilitas yang karena distribusinya berbeda (sesuai dengan p-emenuhan persyaratan dan penilaian terhadap pelaksanaan tugas) membentuk struksur masyarakat.


[1] Pitirim A. Sorokin, Social and Cultural Mobility, (Collier-Macmillan Limited, London: The Free press of Glencoe, 1959), hlm.11.
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, 2009, hlm. 199.
[3] Nurani Soyomukti, Pengantar Sosiologi, 2010, hlm. 371-372.
[4] Ibid., hlm. 373.
[5] Syahrial Syarbani, Rusdiyanta, Dasar-Dasar Sosiologi, 2009, hlm. 52.
[6] Robin Wiliams Jr., American Society, (New York: A Fred A Knopf. 1060), hlm.88-89.
[7] Syahrial Syarbani, op cit., hlm. 54.
[8] Ibid., hlm. 55.
[9] Ibid., hlm. 55.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar